Tetangga Tante Titik Yang Sexy
CD233-Tetangga Tante Titik Yang Sexy - Namaku Didi. Sekarang saya berkerja di salah satu
perusahaan multinasional di kota B dan tinggal di daerah J sejak tahun 1995.
Cerita yang akan saya tuturkan di bawah ini adalah kisah nyata yang terjadi
beberapa tahun yang silam. Dulu saya tinggal bersama kedua orang tuaku di
sebuah kompleks kecil milik sebuah instansi pemerintah dan dihuni oleh beberapa
keluarga saja di dalam satu pagar. Tetangga yang paling dekat dengan kami
adalah Om Yan dan Tante Titik yang mempunyai 2 orang anak laki-laki yang masih
kecil-kecil, yang besar berumur 3 tahun dan yang kecil berumur 1 tahun.
Cerita Dewasa Tetangga Tante Titik Yang Sexy
Pada
saat saya kelas 3 SMA, Om Yan secara kebetulan ditugaskan oleh kantornya untuk
belajar ke Jepang (terakhir saya baru tahu kalau Om Yan bertugas selama 1 tahun
lebih). Dan tinggallah Tante Titik dan 2 orang anaknya beserta 1 orang
pembantunya. Keadaan tersebut membuat saya berhasrat untuk selalu bertandang ke
rumahnya dengan alasan ingin bermain dengan kedua anaknya. Alasan tersebut
cukup kuat karena orang tua saya dan Tante Titik tidak pernah curiga sama
sekali. Seringkali saya juga memergoki Tante Titik sedang berganti pakaian di
kamar dengan tidak menutup pintunya, atau mandi dengan tidak menutup pintunya.
Sampai pada suatu ketika, saat saya sedang bertandang ke rumahnya dan hanya Tante Titik yang ada di rumah. Kedua anaknya dan pembantunya di-hijrah-kan ke daerah KD, sebelah timur kota BT karena Tante Titik sering berpergian. Dan kebetulan juga orang tua saya saat itu sedang ditugaskan ke luar daerah. Dengan ikutnya ibu dan kakak saya, yang berarti saya juga hanya tinggal sendiri di rumah.
Sampai pada suatu ketika, saat saya sedang bertandang ke rumahnya dan hanya Tante Titik yang ada di rumah. Kedua anaknya dan pembantunya di-hijrah-kan ke daerah KD, sebelah timur kota BT karena Tante Titik sering berpergian. Dan kebetulan juga orang tua saya saat itu sedang ditugaskan ke luar daerah. Dengan ikutnya ibu dan kakak saya, yang berarti saya juga hanya tinggal sendiri di rumah.
Sekedar gambaran, Tante Titik itu mempunyai tinggi badan
sekitar 165 cm, mempunyai pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang
yang ramping, dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic, fitness,
dan renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung oleh buah dada yang
besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Titik memakai Bra ukuran
36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang
putih bersih, wajarlah jika Tante Titik menjadi impian banyak lelaki baik-baik
maupun lelaki hidung belang.
Hingga pada suatu sore, saat saya mendengar ada suara langkah
kaki di luar, kemudian saya intip dari jendela dan ternyata Tante Titik baru
pulang. Tidak lama kemudian saya ingin ke kamar mandi (kamar mandinya terletak
di luar masing-masing rumah dan ada beberapa tempat yang berjejer). Di saat
saya keluar dari kamar mandi, saya berpapasan dengannya. Dia memakai kimono
tipis warna biru muda dengan handuk di pundak dan rambut yang diikat agak ke
atas sehingga leher jenjangnya terlihat seksi sekali. Sedangkan saya hanya
memakai celana pendek tanpa kaos (memang kalau di rumah, saya jarang memakai
kaos/baju).
“Malem Tante”, saya sapa dia agar terlihat agak sopan.
“Malem Mas Dio.. kok belum tidur..?” balasnya.
Dan tanpa saya sadari tiba-tiba dia mencekal tangan saya.
“Mas Dio..” katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu.
“Ya Tante..?” Jawab saya.
“Eee.. nggak jadi deh..” Jawabnya ragu-ragu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tante..? Tanya saya agak bingung karena melihat
keragu-raguannya.
“Eee.. nggak kok. Tante cuma mau nanya..” jawabnya dengan
ragu-ragu lagi.
“Mas Dio di rumah lagi ngapain sekarang..?” tanya dia.
“Lagi nonton. Emangnya kenapa Tante..?” saya tanya dia lagi.
“Lagi nonton apa sih..?” tanya dia agak menyelidik.
“Lagi nonton BF Tante”, kata saya yang tidak tahu dari mana tiba-tiba saya
mendapat keberanian untuk bilang begitu. Daftar Judi Uang Asli
“BF..? tanya dia agak kaget.
“Maksudnya Blue Film..?”
“Iya.. emangnya ada apa sih Tante? Kalo tidak ada apa-apa saya mau nerusin
nonton lagi nih..” kata saya dengan agak memaksa.
“Eee.. mau bantuin Tante nggak..? Soalnya Tante agak takut sendirian di rumah.
Kalau kamu mau sambil nonton juga boleh kok. Bawa aja filmnya ke rumah, Tante
juga punya beberapa film seperti itu. Nanti Tante temenin nontonnya deh”, kata
dia agak merajuk.
“Iya deh Tante, saya pilihin dulu yang bagus”, kataku tanpa ba bi Bu langsung
setuju dengan ajakannya.
Pucuk di cinta ulam tiba, sesuatu yang sangat aku impikan
sejak lama untuk bisa berdua dengan Tante Titik. Hari ini aku akan berdua
dengannya sambil menonton Film Biru dengan harapan bisa melihat keindahan
ragawi seorang wanita yang aku puja-puja dari dulu dan bahkan (mungkin)
merasakan kenikmatannya juga.
Singkat kata saya langsung memilah-milah video yang
bagus-bagus (Maklum, waktu itu masih jamannya Betamax, belum VCD). Kemudian
saya masuk rumah Tante Titik lewat pintu dapurnya. Saya setel lebih dulu video
yang tadi saya tonton dan belum habis. Beberapa menit kemudian Tante Titik
masuk lewat pintu dapur juga dengan wangi tubuh yang segar, apalagi rambutnya
juga kelihatan basah seperti habis keramas. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya
yang masih terbalut kimono tipis biru muda yang agak menerawang tersebut,
sehingga dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya karena dia tidak
memakai Bra. Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai
keras dan kencang, kejantananku juga sudah mulai menegang. Dengan santai dia
duduk tepat di sebelahku, dan ikut menonton film BF yang sedang berlangsung.
“Cakep-cakep juga yang main..” akhirnya dia memberi
komentarnya.
“Dari kapan Mas Dio mulai nonton film beginian..? tanyanya.
“Udah dari dulu Tante..” kataku.
“Mainnya juga bagus dan tidak kasar. Mas Dio udah tahu rasanya belum..? tanya
dia lagi.
“Ya belum Tante. Tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, mau
ngajarin saya yah? Kalau iya boleh juga sih”, kataku.
“Ah Mas Dio ini kok jadi nakal yah sekarang”, katanya sambil mencubit lenganku.
“Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu tahu rasanya”, tambahnya dengan
sambil melirik ke arahku dengan agak menantang.
Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Titik menyenderkan kepalanya
ke bahuku. Seketika itu pula aku langsung kaget dan bingung karena belum pernah
sama sekali melakukan perbuatan itu. Tapi aku hanya bisa pasrah saja oleh
perlakuannya. Sebentar kemudian tangan Tante Titik sudah mulai mengusap-ngusap
daerah tubuhku sekitar dada dan perut (karena lagi-lagi aku tidak memakai kaos
saat itu). Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membuat aku nervous
karena itu adalah kali pertama aku diperlakukan oleh seorang wanita, apalagi
wanita tersebut tidak lain adalah Tante Titik. Kejantananku sudah mulai semakin
berdenyut-denyut siap bertempur.
Kemudian Tante Titik mulai menciumi leherku, lalu turun ke
bawah sampai dadaku. Sampai di daerah dada, dia menjilat-jilat ujung dadaku,
secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante Titik juga sudah mulai
masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusap-usap kejantananku.
Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang, aku mulai
memberanikan diri untuk membuka kimono yang dia pakai. Aku remas payudaranya,
dan aku pilin-pilin ujung dari payudara yang berwarna kecoklatan dan sangat
sensitif itu, terkadang aku juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung
jariku. “Ssshh.. ya situ sayang..” katanya setengah berbisik. “Ssshh.. oohh..”
Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya
kejantananku. Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang
sangat membara. Dan dia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku.
Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya ke bawah sampai pada permukaan
celana dalamnya, yang rupanya sudah mulai menghangat dan agak lembab. Aku
melepaskan celana dalam Tante Titik, sehingga kami berdua menjadi telanjang
bulat. Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. Dia kelihatan
agak kaget ketika merasakan jariku bermain di daerah seputar klitorisnya. Lama
kelamaan Aku masukkan satu jariku, lalu jari kedua dan kemudian aku tambah satu
jari lagi sehingga menjadi tiga ke dalam liang kemaluannya. “Aaahh.. sshh..
oohh.. terus sayang.. terus..” bisik Tante Titik.
Ketika jariku terasa mengenai akhir lubangnya, tubuhnya
terlihat agak bergetar. “Ya.. terus sayang.. terus.. aahh.. sshh.. oohh..
aahh.. terus.. sebentar lagi.. teruuss.. oohh.. aahh.. aarrgghh..” kata Tante
Titik.
Seketika itu pula dia memeluk tubuhku dengan sangat erat
sambil menciumku dengan penuh nafsu. Aku merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar
(yang kemudian baru aku tahu bahwa dia sedang mengalami orgasme). Beberapa saat
tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya. Yang diakhiri dengan
terkulainya tubuh Tante Titik yang terlihat sangat lemas di sofa.
“Saya kapan Tante, kan saya belum..?” Rujukku. Domino Online Terpercaya
“Nanti dulu yah sayang, sebentar.. beri Tante waktu untuk istirahat sebentar
aja”, kata Tante Titik.
Tapi karena sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya sampai mengenai klitorisnya, aku dekati payudaranya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya, sesekali kuremas payudara yang satunya. Sehingga rupanya Tante Titik juga tidak tahan menerima paksaan rangsangan-rangsangan yang kulakukan terhadapnya. Sehingga sesekali terdengar suara erangan dan desisan dari mulutnya yang seksi. Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas. Sehingga kemudian dengan terpaksa dia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya. Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua.
Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante
Titik. “Ssshh..” rasanya benar-benar tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Lalu
Tante Titik mulai menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang
kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan. “Aaahh..” baru masuk kepalanya saja
aku sudah tidak tahan, lalu Tante Titik mulai menarik pantatku ke bawah, supaya
batang kejantananku yang perkasa ini bisa masuk lebih dalam. Bagian dalam
kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah, tapi masih agak seret, mungkin
karena sudah lama tidak dipergunakan. Namun Tante Titik tetap memaksakannya
masuk. “Aaagghh..” rasanya memang benar-benar luar biasa walaupun kejantananku
agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar biasa. Lalu terdengar suara
erangan Tante Titik.
Lalu Tante Titik mulai menyuruhku untuk menggerakkan
kemaluanku di dalam kewanitaannya, yang membuatku semakin gila. Ia sendiri pun
mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa menit kami begitu hingga
suatu saat, seperti ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya bertambah licin,
dan makin lama Tante Titik terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang membuat
dia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya karena tidak kuasa
menahannya. Dan tiba-tiba kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang
kewanitaan Tante Titik, yang tiba-tiba dinding-dinding kewanitaannya terasa
seperti menjepit dengan kuat sekali. Aduuh.. kalau begini aku makin tidak tahan
dan.. “Aaarrgghh.. sayaang.. Tante keluar lagii..” jeritnya dengan keras, dan
makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Titik, tubuhnya mengejang kuat seperti
kesetrum, ia benar-benar menggelinjang hebat, membuat gerakannya semakin tak
karuan. Dan akhirnya Tante Titik terkulai lemas, tapi kejantananku masih tetap
tertancap dengan mantap.
Aku mencoba membuatnya terangsang kembali karena aku belum
apa-apa. Tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil sesekali
kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku. Sedang
payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku. Tiba-tiba
seperti ada sesuatu yang keluar dan terasa hambar dari ujung payudaranya, yang
ternyata susu. “Ssshh.. shh..” desahan Tante Titik sudah mulai terdengar lagi.
Aku memintanya untuk berganti posisi dengan doggy style. Awalnya dia menolak
dengan alasan belum pernah bersetubuh dengan gaya itu, setelah aku beritahu
alasanku, akhirnya dia mau juga dengan berpesan agar aku tidak memasukkan air
maniku ke dalam liang kewanitaannya.
Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang
kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Titik agak menengok ke belakang
dan matanya melihat mataku dengan sayu, sambil dia gigit bibir bawahnya untuk
menahan rasa sakit yang timbul. Sedikit demi sedikit aku coba untuk menekannya
lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah tertelan semuanya di dalam kewanitaan
Tante Titik, lalu aku mulai menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil
menggenggam buah pantatnya yang bulat. Dengan gaya seperti ini, desahan dan
erangannya lebih keras, tidak seperti gaya konvensional yang tadi.
Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang
kini meremas payudaranya, sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik
rambutnya agar terlihat lebih merangsang dan seksi. “Ssshh.. aarrgghh.. oohh..
terus sayaang.. terus.. aarrgghh.. oohh..” Tante Titik terus mengerang.
Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Titik merasa akan
orgasme lagi sambil mengerang dengan sangat keras sehingga tubuhnya
mengejang-ngejang dengan sangat hebat, dan tangannya mengenggam bantalan sofa
dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya jatuh
terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya
agar tetap di atas. Dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan aku
memberitahukan hal tersebut padanya, tapi dia tidak menjawab sepatah kata pun.
Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan kecil, sehingga aku tidak
berhenti menggerakkan pinggulku terus.
Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang
tertahan, sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku
menggenggam buah pantat Tante Titik dengan erat, yang kemudian diikuti oleh
keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Titik. Mata Tante Titik
terlihat agak terbelalak ketika merasakan ada cairan yang memenuhi bagian dalam
dari kewanitaannya. Sesaat kemudian aku ambruk di atas tubuhnya, tubuhku terasa
sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, aku melepaskan
kejantananku dari liang nikmat milik Tante Titik.
Dengan agak malas Tante Titik membalikkan tubuhnya dan duduk
di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak terbuka, sambil
tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya.
“Kok dikeluarin di dalem sih Mas Dio..? tanyanya dengan suara yang agak
bergetar.
“Tadi kan saya sudah bilang ke Tante, kalau punya saya berdenyut-denyut, tapi
Tante nggak ngejawab sama sekali..” kataku membela diri.
“Ya kan terasa kalau sudah mau keluar..” katanya.
“Saya mana tahu rasanya kalau mau keluar.. ini kan yang pertama buat saya. Jadi
saya belum tahu rasanya..” jawabku.
“Terus entar kalau jadi gimana?” katanya lagi.
“Nggaakk tahu Tante..” jawabku dengan suara yang agak terbata-bata karena takut
dengan resiko tersebut. QQ Online Terbaik
“Ya sudahlah.. tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu langsung
buru-buru dicabut dan dikeluarkan di luar ya..?” katanya menenangkan diriku
yang terlihat takut.
“I.. iiya Tante..” jawabku sambil menunduk.
Lalu Tante Titik berdiri menghampiri video dan TV yang masih
menyala, dan mematikannya. Kemudian tangannya dijulurkan, mengajakku pindah ke
kamar untuk tidur. Akhirnya kami tertidur pulas sampai pagi sambil saling
berdekapan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Itulah awal dari perbuatan-perbuatan saya bersama Tante Titik.
Selama hampir 2 tahun Tante Titik memberi saya banyak pelajaran dan kenikmatan
yang sangat luar biasa. Terkadang jika Tante Titik sedang sangat
menginginkannya, aku selalu siap melayaninya, kecuali jika keadaanku sedang
tidak fit atau sedang ada keperluan keluarga atau sekolah. Dan jika aku yang
sedang menginginkannya, Tante Titik sangat tidak keberatan melayaniku, bahkan
dia terlihat sangat senang. Tidak jarang aku diajak pergi untuk melakukan
fitness atau olah raga atau hanya sekedar jalan-jalan atau ngerumpi bersama
teman-temannya. Akhirnya aku baru tahu kalau Tante Titik sebenarnya sangat haus
akan seks, dia adalah wanita yang bertipe agak mendewakan seks. Dan dia akan
melakukan apa saja demi seks. Tapi sebenarnya pula dia tidak begitu kuat dalam
bersetubuh, sehingga dia bisa berkali-kali mengeluarkan cairannya dan
berkali-kali pula tubuhnya terkulai lemas.





Comments
Post a Comment