Mertua Nafsu Melihat Kontolku Yang Gede
CD233-Mertua Nafsu Melihat Kontolku Yang Gede - Aku seorang laki-laki biasa, hobiku berolah raga,
tinggi tubuhku 178 cm dengan bobot tubuh 78 kg. Aku mempunyai fisik yang ideal
untuk seorang pria, tinggi, tegap, padat dan atletis. Tidak heran kalau banyak
wanita yang menggoda dan mengajakku tidur karena sex appeal-ku ini. Empat tahun
yang lalu saya menikah dan menetap di rumah mertuaku. Hari-hari berlalu kami
lewati tanpa adanya halangan walaupun sampai saat ini kami memang belum
dianugerahi seorang anak pendamping hidup kita berdua. Kehidupan berkeluarga
kami sangat baik, tanpa kekurangan apapun baik itu sifatnya materi maupun
kehidupan seks kami. Tetapi memang nasib keluarga kami yang masih belum
diberikan seorang momongan.
Cerita Dewasa Mertua Nafsu Melihat Kontolku Yang Gede
Di rumah itu kami tinggal
bertiga, aku dengan istriku dan Ibu dari istriku. Sering aku pulang lebih dulu
dari istriku, karena aku pulang naik kereta sedangkan istriku pulang naik
kendaraan umum. Jadi sering pula aku berdua di rumah dengan mertuaku sampai
dengan istriku pulang. Mertuaku berumur sekitar kurang lebih 45 tahun, tetapi dia
mampu merawat tubuhnya dengan baik, aktif dengan kegiatan sosial dan rutin
berolahraga bersama teman-temannya yang lain. Sering kulihat Ibu mertuaku pakai
baju tidur tipis dan tanpa BH. Melihat bentuk tubuhnya yang masih lumayan
dengan kulitnya yang putih, sering membuatku seperti kehilangan akal sehat.
Pernah suatu hari selesai Ibu
mertua mandi, telepon berdering. Lalu dia pun keluar dari kamar mandi dengan
hanya menggunakan sehelai handuk yang dililitkan ke tubuhnya. Aku yang sedang
berolahraga angkat beban di luar, juga bermaksud mengangkatnya. Sesampainya aku
di dekat telepon, ternyata kulihat Ibu mertuaku sudah mengangkatnya. Saat
itulah aku melihat pemandangan yang menggiurkan. Dari belakang kulihat bentuk
pangkal pahanya sampai ke bawah kakinya yang begitu bersih tanpa ada bekas
goresan sedikitpun. Aku tertegun dan menelan ludah, terangsang melihat kaki Ibu
mertuaku. Dalam hati berpikir “Kok, sudah tua begini masih mulus aja ya..?”
Aku terhentak dari lamunanku begitu Ibu mertuaku menaruh gagang telepon. Lalu aku bergegas kembali ke luar, meneruskan olahragaku yang tertunda. Beberapa menit setelahnya aku hentikan olahragaku, masuk ke kamar, ambil handuk dan mandi. Saat aku hendak ke kamar mandi, kembali aku melihat pemandangan yang menggairahkan. Melalui celah pintu kamarnya yang tak tertutup, kuintip ke dalam, kulihat bagian belakang Ibu mertuaku yang bugil karena handuknya sudah dilepas dari tubuhnya. Serta merta Kontol ku mulai bangkit, dan gairahku memuncak. Segera kutenangkan pikiranku yang mulai kotor karena pemandangan itu.
Selesai mandi aku membuat
kopi dan langsung duduk di depan TV nonton acara yang lumayan untuk ditonton.
Tidak lama Ibu mertuaku menyusul ikutan nonton sambil mengobrol denganku.
“Bagaimana kerjaanmu,
baik-baik saja?” tanya Ibu mertuaku. Domino Online
“Baik, Bu. Lho Ibu sendiri
gimana?” tanyaku kembali. Kami mengobrol sampai istriku datang dan ikut
bergabung mengobrol dengan kami berdua.
Besok malamnya, sekitar jam 11.30 malam aku keluar kamar untuk minum. Kulihat TV di ruang keluarga masih menyala. Saat itu terlihat Ibu mertuaku ternyata sudah tertidur di depan TV. Ketika aku hendak mematikan televisi, tidak sengaja aku melihat ke arah rok Ibu mertuaku. Rok Ibu mertuaku tersibak sampai celana dalamnya kelihatan sedikit. Kulihat kakinya masih begitu mulus, iseng kuintip roknya dan terlihatlah gumpalan daging kemaluan yang ditutupi celana dalamnya. Ingin sekali rasanya kupegang dan kuremas gumpalan daging memek Ibu mertuaku itu, tetapi buru-buru aku ke dapur ambil minum lalu membawa ke kamar. Sebelum masuk kamar sambil berjalan pelan kulirik Ibu mertuaku sekali lagi dan Kontol ku langsung ikut bereaksi pelan.
Aku masuk kamar dan coba
mengusir pikiranku yang mulai kerasukan ini. Esoknya aku telat bangun, dan
kulihat istriku sudah tidak ada. Langsung aku bergegas ke kamar mandi. Selesai
mandi sambil mengeringkan rambut yang basah, aku berjalan pelan dan tanpa
sengaja kulihat Ibu mertuaku berganti baju di kamarnya tanpa menutup pintu
kamar. Aku kembali tertegun dan terangsang menatap keseluruhan bentuk tubuh Ibu
mertuaku. Cuma sebentar aku masuk kamar, berganti pakaian kerja dan segera
berangkat.
Hari ini aku pulang cepat, di
kantorpun tidak ada lagi kerjaan yang aku harus kerjakan. Saat pulang aku tidak
melihat Ibu mertuaku, tampaknya dia berada di kamarnya karena pintunya
tertutup. Sampai di rumah aku langsung berganti pakaian dengan kaus olahraga,
dan mulai melakukan olahraga rutin yang biasa aku lakukan tiap pulang kerja.
Sedang asyik-asyiknya aku melatih otot-otot dada dan lenganku, tiba-tiba
kudengar suara teriakan. Itu adalah suara teriakan Ibu mertuaku. Kusudahi
latihanku, dan aku segera bergegas menuju suara teriakan yang berasal dari
kamar Ibu mertuaku. Langsung tanpa pikir panjang kubuka pintu kamar. Kulihat
Ibu mertuaku berdiri di atas kasur sambil teriak
“Awas tikusnya keluar..!”
tandas Ibu mertuaku.
“Tikus? Ada tikus di sini Bu?” tanyaku menegaskan.
“Iya…ada tikus, tolong carikan!” katanya panik.
“Tikus? Ada tikus di sini Bu?” tanyaku menegaskan.
“Iya…ada tikus, tolong carikan!” katanya panik.
Aku pun mulai mencari tikus
itu.
“Lho.. kok pintunya di buka
terus? Nanti tikusnya susah ditangkap!” tandas Ibu mertuaku.
Sambil kututup pintu kamar,
kubilang “Mana.. mana tikusnya..?”
“Coba kamu lihat di bawah
kasur atau di sudut sana..” kata Ibu mertuaku sambil menunjuk meja riasnya.
Kuangkat seprei kasur dekat meja rias. Memang ada seekor tikus kecil di situ
yang tiba-tiba mencuit dan melompat ke arahku. Aku kaget dan spontan lompat ke
atas kasur.
Ibu mertuaku tertawa kecil
melihat tingkahku dan mengatakan “Kamu takut juga ya?” Sambil menggerutu pelan
kembali kucari tikus kecil itu, sesekali mataku nakal melirik ke arah kaki Ibu
mertuaku yang roknya terangkat itu.
Saat sedang mencari tikus
itu, tiba-tiba Ibu mertuaku kembali teriak dan melompat ke arahku, ternyata
tikusnya ada di atas kasur. Ibu mertuaku mendekapku dari belakang, entah
disengaja atau tidak, namun kurasakan payudara nya menempel di punggungku,
terasa hangat dan kenyal-kenyal. Kuambil kertas dan kutangkap tikus yang sudah
mulai kecapaian itu terus kubuang keluar.
“Udah dibuang keluar belum?”
jelas Ibu mertuaku.
“Udah, Bu.” Jawabku dari luar
kamar.
“Kamu periksa lagi, mungkin
masih ada yang lain… soalnya Ibu dengar suara tikusnya ada dua” tegas Ibu
mertuaku.
“Walah, tikus maen pake ajak
temen segala!” gumamku.
Aku kembali masuk ke kamar
dan mengendus-endus di mana temennya itu tikus seperti yang dibilang Ibu
mertuaku. Ibu mertuaku duduk di atas kasur sedangkan aku sibuk mencari. Begitu
aku mencari di bawah kasur sepertinya tanganku ada yang meraba-raba di atas
kasur. Aku kaget dan kusentakkan tanganku, ternyata tangan Ibu mertuaku yang
merabanya. Aku pikir temennya tikus tadi. Ibu mertuaku tersenyum penuh misteri
dan kembali meraba tanganku. Aku memandang aneh kejadian itu, tetapi kubiarkan
dia merabanya terus.
“Gak ada tikus lagi, Bu..!”
kataku setelah berkali-kali mencari. Tidak ada sahutan. Lalu tanpa berkata apa
pun Ibu mertuaku beranjak dari kasur dan langsung memelukku. Aku kaget dan
mulai panas dingin. Dalam hati aku berkata “Kenapa nih orang?”
Rambutku dibelai, diusap
seperti usapan seorang ibu pada anaknya. Dipeluknya aku erat-erat seperti takut
kehilangan.
“Ibu kenapa?” tanyaku.
“Ah.. nggak! Ibu cuma mau
membelai kamu” jawabnya sambil tersenyum genit.
“Udah ya.. Bu,
belai-belainya..!” kataku.
“Kenapa, kamu nggak suka
dibelai sama Ibu” rajuk Ibu mertuaku.
“Bukan nggak suka, Bu.
Cumakan…” alasanku lagi.
“Cuma apa… ayo.. cuma
apa..!?” potong Ibu mertuaku. Aku diam saja, dalam hati biar sajalah tidak ada
ruginya kok dibelai sama dia. Siapa juga lelaki yang tidak mau diraba dan
diusap-usap sama wanita seksi seperti dia?
Sambil membelaiku, kulihat
pancaran birahi tersiar dari matanya. Aku merasa maklum, dengan kaos olahraga
tipis yang melekat di tubuhku, tampilan otot-otot kekar di baliknya pasti
terlihat dengan jelas. Hal itu ditopang dengan keringatku yang membekas di kaos
itu. Pasti terlihat sangat menggairahkan bagi wanita mana saja yang melihatnya.
Kuperhatikan Ibu mertuaku masih terus membelaiku. Belaiannya lalu berpindah,
dari rambut terus turun ke leher sambil diciumnya perlahan. Aku merinding
menahan geli, sementara tangan halusnya bergerilya menyusuri tubuhku. Kaos
olahragaku diangkat dan dibukanya, bukit dadaku diusap dengan sesekali
digigiti. Pentil dadaku dipegang, diusap dan dicium. Kudengar nafas Ibu
mertuaku semakin tidak beraturan. Dituntunnya aku ke atas ranjang, mulailah
pikiranku melanglang buana. Dalam hati aku berpikir “Jangan-jangan Ibu mertuaku
lagi kesepian dan minta disayang-sayang ama laki-laki”.
Aku bersikap pasif, tidak
membalas tindakan mesra Ibu mertuaku itu. Aku berbaring di atas ranjang dengan
posisi terlentang. Ibu mertuaku masih terus mengusap-usap dadaku yang lalu
turun ke bagian perutku. Dicium, dijilati, dan terus dielusnya dada dan
perutku. Aku menggelinjang geli dan berkata pelan berkata “Bu, sudah ya…”
Dia diam saja, sementara
tangan kanannya mulai masuk ke dalam celanaku. Aku mengeluh pelan. Kurasakan
tangan kanannya meraba-raba dan sedikit meremas-remas Kontol ku dari luar
celana dalamku. Merasakan hal itu, Kontol ku pun mulai mengeras dan membesar.
Sambil terus meremas dan meraba Kontol ku yang sudah tegang, tangan kirinya
berusaha untuk menurunkan celana pendekku. Aku pun beringsut membantunya untuk
menurunkan celana pendekku. Tidak lama celanaku sudah lepas berikut celana
dalamku.
Kontol ku pun sudah berdiri
kencang, terus memanjang dan membesar seiring dengan rabaan dan remasan tangan
Ibu mertuaku di batangnya.
“Besar sekali burungmu, Do,
panjang pula…!” puji Ibu mertuaku sambil menoleh kepadaku dan tersenyum mesum.
Mulut Ibu mertuaku pun mulai beraksi di Kontol ku. Kepala Kontol ku diciumnya,
sambil tangan kirinya memijit bijiku. Aku mengeluh, mengerang, dan mendesis
nikmat, merasakan gerakan erotis yang dibuat Ibu mertuaku.
“Ah, ah.. hhmmh… teruss..”
itu saja yang keluar dari mulutku. Ibu mertuaku terus melanjutkan permainan
birahinya dengan mengulum Kontol ku. Aku benar-benar terbuai dengan kelembutan
yang diberikan Ibu mertuaku kepadaku. Kupegang kepala Ibu mertuaku yang
bergerak naik turun. Bibirnya benar-benar lembut, gerakan kulumannya begitu
pelan dan teratur. Aku merasa seperti disayang, dicintai dengan gerakan mesra
Ibu mertuaku.
Setelah dikulum sekitar 15
menit lebih, aku mulai tidak tahan. “Ah, Bu.. aku nggak tahan lagi Bu..” erang
nikmatku.
“Hhmm.. mmh, heh..” suara Ibu
mertuaku menjawabku. Gerakan kepala Ibu mertuaku masih pelan dan teratur. Aku
semakin menggelinjang dibuatnya. Tubuhku menekuk, meliuk dan bergetar-getar
menahan gejolak yang tak tahan kurasakan. Tak lama tubuhku mengejang keras.
Kurasakan nikmat yang luar biasa, seiring dengan menyemburnya spermaku ke mulut
Ibu mertuaku.
“Aggghhh…oohhh…akkuuu
keeluuaarrr…Buu…”
“Crroootttt… cccrrrroootttt… ccrrrooottttt…”
“Crroootttt… cccrrrroootttt… ccrrrooottttt…”
Kulihat Ibu mertuaku masih
bergerak pelan, bibirnya masih menelan kepala kontol ku dengan kedua tangannya
yang berlepotan sperma, memegang batang Kontol ku. Dia melihatku dengan tatapan
sayunya dan kemudian kembali menciumi Kontol ku, geli yang kurasakan sampai ke
ubun-ubun kepala.
“Banyak banget kamu
keluarnya, Do..!” tandas Ibu mertuaku sambil menatap mataku.
Aku terdiam lemas sambil
melihat Ibu mertuaku datang menghampiriku dan memelukku dengan mesra. Aku balas
pelukannya dan kucium dahinya. Kubantu dia membersihkan mulutnya yang masih
penuh spremaku dengan menggunakan kaos olahragaku tadi. Aku duduk di ranjang,
telanjang bulat dan berkeringat, menghirup minuman yang entah kapan sudah
tersedia di meja riasnya. Sedang Ibu mertuaku, tiduran dekat dengan Kontol ku.
“Kenapa jadi begini, Bu..?”
tanyaku sambil tersenyum.
“Ibu cuma pengen aja kok..”
balas Ibu mertuaku genit. Diusap-usapnya dengan mesra batang Kontol ku, sambil
tersenyum khas wanita nakal.
Aku belai rambutnya dan
kuelus-elus pahanya sambil berkata “Ibu mau juga?” godaku sambil tersenyum. Dia
menggangguk pelan, kusudahi minumku dan lalu kucium bibir Ibu mertuaku. Dia
balas ciumanku dengan mesra, aku melihat tipe Ibu mertuaku bukanlah tipe wanita
yang haus akan seks, melainkan dia haus akan kasih sayang. Berhubungan intim
pun sepertinya senang yang pelan-pelan bukannya seperti seekor serigala di
musim kawin. Aku ikut pola permainan Ibu mertuaku, pelan-pelan kucium dia mulai
dari bibirnya terus ke bagian leher dan belakang kupingnya, dari situ aku ciumi
terus ke arah dadanya. Kubantu dia membukakan pakaiannya, kulepas semua
pakaiannya. Kali ini aku benar-benar melihat semuanya. Kulitnya masih mulus,
tak seperti kulit wanita seumurannya. Payudaranya masih kencang dan kenyal,
perutnya rata dan singset, pinggang dan pinggulnya tampak montok, paha, betis
dan kakinya kencang karena sering aerobik dan jogging dengan teman-teman
arisannya.
Kuraba dan kuusap semua
tubuhnya dari pangkal paha sampai ke toket nya. Aku kembali ciumi dia dengan
pelan dan beraturan. Kunikmati dengan pelan seluruh bentuk tubuhnya dengan
mencium, menjilat, dan membelai setiap senti bagian tubuhnya. Payudaranya
kupegang, kuremas pelan dan lembut, kucium dan kugigiti putingnya. Kudengar
desahan nikmat dan nafasnya yang tidak beraturan. Puas beraksi di dada aku
terus menyusuri bagian perutnya, kujilati perutnya yang indah itu, serta
memainkan ujung lidahku di atasnya dengan putaran lembut yang membuat dia
sedikit berkejang-kejang. Tangannya terus meremas dan menjambak rambutku,
sementara lidahku melata pelan ke arah memeknya.
Sampai akhirnya bibirku
mencium daerah berbulu miliknya, tercium aroma memeknya yang harum lalu
kujilati bibir memeknya. “Oucchh.. terus sayang, kamu lembut sekali.. tee..
teruss..” kudengar suara erotisnya pelan.
Kumainkan ujung lidahku menyusuri dinding memeknya, kadang masuk kadang menjilat membuat dia seperti berada di awang-awang. Kujilati klitorisnya dan semua yang ada di daerah kemaluannya. Kusedoti cairan yang membanjir dari memeknya. Kulakukan ini terus menerus, dan kudengar desahan erotiknya yang semakin keras. Beberapa menit kemudian, ketika dia mulai di ambang orgasmenya tiba-tiba dengan tak sabar ditariknya kepalaku dan dia kembali melumat bibirku dengan panas. Dia membalikkan tubuhku dan mulai bergerak merayap ke atas tubuhku. Dipegangnya kembali Kontol ku yang sudah kembali siap menyerang. Lalu diarahkannya Kontol ku yang sudah siap tempur itu ke lobang memeknya…
Setelah beberapa kali dicoba,
”Blesshhh…” masuk sudah seluruh batang Kontol kuku tertelan memek ibu mertuaku.
Diangkat dan digoyang pantatnya. Dia memutar-mutar pinggulnya, berusaha untuk
mendapatkan kenikmatan dari batangku seperti yang dia mau.
“Ah.. uh, nikmat banget
ya..!” kata Ibu mertuaku. Dengan gerakan seperti itu tak lepas kuremas
payudaranya dengan mesra.
“Aahhh…uuhh…bessarr…banggett…punnyaa…muuhh…Do
ohh!” gerakan naik turunnya makin cepat.
“Ohh…nikmaattt…ahhh…uhhh…dahsyaaatt…”
desah Ibu mertuaku terus naik turun menikmati pompaan Kontol ku. Dicakarnya
dengan gemas otot-otot kekar di dada dan di perutku….
“Ohhh…aahhh…miiliikk…Ibu…juggaa…ennakk” erangku penuh nikmat sambil tak lepas kuremas-remas payudaranya.
“Ohhh…aahhh…miiliikk…Ibu…juggaa…ennakk” erangku penuh nikmat sambil tak lepas kuremas-remas payudaranya.
“Sempiitt…ohhhh…terusshh…jepiitt buruuunggkuu…ohhh…Buuhhh…” erangku berlanjut merasakan hisapan memeknya pada Kontol ku. Memek Ibu mertuaku memang masih nikmat kurasakan. Walau sudah berumur, rasanya tidak kalah dengan memek para perempuan lain yang pernah kutiduri sebelumnya. Tampaknya Ibu mertuaku sangat pintar menjaga kemaluannya itu.
Setelah cukup lama naik-turun
keluar-masuk, Ibu mertuaku mulai menunjukkan tanda-tanda.
“Aduh, Ibu nggak tahan lagi
sayang…” kata Ibu mertuaku. Aku mencoba membantunya mendapatkan kepuasan yang
mungkin belum pernah dia alami sebelumnya. Gerakannya semakin cepat dari
sebelumnya, dan tak lama dia berhenti sambil menarik tanganku agar aku bangkit.
Diarahkannya wajahku ke arah payudaranya sambil berujar;
“Ayyooo Ddoohhh… hisap dan susui toketku…” Kupenuhi permintaannya dengan senang hati. Kuhisap, kujilat dan kugigit gemas payudaranya yang bagus itu. Ibu mertuaku mengerang-erang merasakan nikmatnya perbuatanku itu….
“Ayyooo Ddoohhh… hisap dan susui toketku…” Kupenuhi permintaannya dengan senang hati. Kuhisap, kujilat dan kugigit gemas payudaranya yang bagus itu. Ibu mertuaku mengerang-erang merasakan nikmatnya perbuatanku itu….
“Aaaahhh… aahhh… aaahhh…
pintaarrsss kamuuhhh Sayanngghhh…” Kurangkul tubuhnya lembut dan terus
menggoyangkan batang Kontol
ku yang masih di dalam dengan keras dan bertenaga. Hingga akhirnya…
“Ahh.. ah.. ahhss..” desah
nikmat Ibu mertuaku. Keluarlah cairan kewanitaannya membasahi Kontol ku yang
masih terbenam di liang memeknya.
“Ahhss…ohhhh…nikmaattnya
burungmu…Ddoohh!” desahnya lagi sambil tubuhnya yang mengkilat karena
keringatnya itu berkejat-kejat, menerima gelombang kenikmatan yang datang
menderanya. Kami sama ambruk ke ranjang. Kupeluk dia sambil kuciumi bibirnya
dan kuelus-elus punggung mulusnya. Dia terdiam dalam dekapanku. Kubiarkan dia
menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Setelah kurasa dia sudah cukup beristirahat, kugoda dia lagi
Setelah kurasa dia sudah cukup beristirahat, kugoda dia lagi
“Enak ya.. Bu… Mau lagi..?”
Dia menoleh dan tersenyum sambil telunjuknya mencoel ujung hidungku.
“Kenapa? Kamu juga mau lagi?”
canda Ibu mertuaku.
Tanpa banyak cerita kumulai
lagi gerakan-gerakan panas, kuangkat Ibu mertuaku dan aku menidurkannya sambil
mencium bibirnya kembali. Untuk sesaat kami saling berciuman dengan panas,
saling tukar lidah dan ludah. Tangan-tanganku dan Ibu mertuaku bergerak nakal,
tetapi tetap dengan gerakan yang lembut menggerayangi tubuh pasangannya. Kami
juga tak lepas berciuman dalam posisi ini. Kemudian kembali kumasukkan Kontol
ku ke memeknya. Hanya sebentar aku bermain dalam posisi itu, lalu kutuntun dia
untuk bermain di posisi yang lain.
Kuajak dia berdiri di samping ranjangnya. Awalnya dia bingung dengan posisi baru ini. Tetapi untuk menutupi kebingungannya kuciumi tengkuk lehernya dan kujilati kupingnya. Kuputar tubuhnya untuk membelakangiku, kurangkul dia dari belakang. Tangan kanannya memegang batang Kontol ku sambil mengocoknya pelan, sementara kedua tanganku memainkan payudaranya. QQ Online Kemudian kuangkat kaki kanannya dan kupegangi kakinya. Sepertinya dia mulai mengerti bagaimana aku akan bermain. Tangan kanannya menuntun Kontol ku ke arah memeknya, pelan dan pasti kumasukkan batang Kontol ku dan masuk dengan lembut… ”Bleeeppp…” Ibu mertuaku melenguh dan mendesah nikmat, kutarik dan kudorong pelan Kontol ku, sambil mengikuti gerakan pantat yang diputar-putar Ibu mertuaku.
Luar biasa nikmat kurasakan pengaruhnya pada Kontol ku. Kutambah kecepatan gerakanku pelan-pelan, masuk-keluar, masuk-keluar, semakin lama semakin cepat. Kupegang erat-erat kaki kanannya agar tidak jatuh, kudekap Ibu mertuaku dengan tangan kiriku, sambil kumainkan payudara kirinya. Sesekali kuciumi tengkuk lehernya.
“Ah.. ah.. Dod.. Dodo,
kammuu..!” desahan erotis Ibu mertuaku mulai keras terdengar.
Cukup lama kupompa memeknya,
kurasakan tubuh Ibu mertuaku bergetar.
“Ibu mau keluar lagi.. Do…”
jeritnya. Mendengar kata-katanya, semakin kutambah kecepatan sodokan batangku
dan…
“Acchh…aaahhh…ooochhh”
keluarlah cairan ejakulasi dari memek Ibu mertuaku, turun membasahi tangan dan
pahaku. Ibu mertuaku berteriak-teriak erotis dalam pelukanku. Tubuhnya
berkejat-kejat liar, bergetar lemas dan langsung jatuh ke kasur.
Sesampainya di kasur kubalik tubuhnya dan kucium balik bibirnya. Kembali kumasukkan Kontol ku ke memeknya. Dia balas memelukku dan menjepit pinggang rampingku dengan kedua kakinya. Kuayun pantatku naik turun tambah cepat membuat Ibu mertuaku semakin meringkih kegelian.
“Ayo Do, kamu lama banget
sih.. Ibu geli banget nih..” kata Ibu mertuaku.
“Dikit lagi, Bu..!” sahutku.
Ibu mertuaku membantuku keluar dengan menambah gerakan erotisnya. Pantatnya
berputar-putar mengimbangi pompaanku. Bermenit-menit kukocok kemaluannya, aku
mulai merasakan tanda-tanda. Kurasakan kenikmatan itu datang tak lama lagi.
Tubuhku bergetar dan menegang, sementara Ibu mertuaku memutar-mutar pantatnya
dengan cepat. Akhirnya…
“Crrootttt… cccrrrrooottttt…
ccrrroootttttt….”
Kuhamburkan seluruh spermaku
dalam-dalam ke memeknya. Ada sekitar 7 kali semburan pejuhku ke dalam memeknya.
“Ahhcckk.. ahhk.. aduhh..
nikmatnya” kataku. Ibu mertuaku meresponnya dengan memelukku dengan erat.
“Waduh banyak juga kayaknya
kamu keluarkan pejuhmu untuk Ibu…” kata Ibu mertuaku sambil tersenyum.
Kucabut Kontol ku yang sudah
kembali ciut ukurannya dari jepitan memeknya, lalu berbaring di sampingnya. Aku
terkulai lemas di sisi ibu mertuaku. Kemudian Ibu mertuaku mendekatiku dan
merebahkan kepalanya di dadaku. Tangan halusnya membelai-belai perut sixpackku
lalu bergerak turun untuk meremasi batang Kontol ku. Dia mainkan sisa cairan di
ujung batangku. Aku sedikit kegelian begitu tangan Ibu mertuaku mengusap-usap
kepala Kontol ku yang sudah kembali menciut.Sesaat kami saling bercanda sambil
berciuman mesra. Setelah puas, kucium bibir Ibu mertuaku lembut, kemudian pamit
keluar kamar untuk mandi. Tak lama ibu mertuaku ikut menyusulku mandi.
Begitu istriku pulang, kami
bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi. Kami bertiga asyik mengobrol dan
bercanda-canda. Namun saat kami berpandangan, dapat kulihat sorot matanya
menatapku yang seakan-akan ingin mengulanginya kembali bersamaku.
Semenjak hari itu aku sering mengingat kejadian itu. Bayangan Ibu mertuaku yang mendesah-desah nikmat merasakan pompaan Kontol ku ini sering menghiasi mimpi-mimpiku. Saat aku sedang menyetubuhi istrikupun, tetap saja ingatanku melayang ke situ. Kadang kalau aku tak sengaja menatap cermin meja rias istriku, terbayang peristiwa nikmat di hari yang indah itu. Bayangan aku dan Ibu mertuaku yang sedang asyik bergelut menimba gairah birahi.
Kami saling mencabik,
bergelut liar, dan mengerang-erang penuh kenikmatan. Kalau sudah begitu, Kontol
ku akan bangun-tegak membesar memanjang-menuntut untuk dipuaskan kesenangan
biologisnya. Akhirnya terpaksalah aku beronani untuk meredam kehausan seksual
burung kesayanganku ini.
Sudah empat hari ini Ibu mertuaku pergi dengan teman-temannya dalam acara koperasi Ibu-Ibu di daerah itu. Otomatis aku hanya bisa bertemu dengannya malam saja. Hingga sampai suatu hari. Saat itu Kamis jam 05.00 sore aku sudah ada di rumah, kulihat rumah sepi seperti biasanya.
Sesampainya di rumah aku bergegas
untuk mandi, karena aku sudah mampir dulu di sebuah gym tadi. Sebelum masuk ke
kamar tidurku kulihat di kamar mandi ada orang yang mandi. Aku bertanya “Siapa
di dalam?”
“Ibu! Kamu sudah pulang Do..”
balas Ibu mertuaku.
“O, iya. Kapan sampainya Bu?”
tanyaku lagi sambil masuk kamar.
“Baru setengah jam sampai!” jawab Ibu mertuaku.
“Baru setengah jam sampai!” jawab Ibu mertuaku.
Kuganti pakaianku dengan pakaian rumah, celana pendek dan kaos oblong. Aku berjalan ke dapur hendak mengambil handukku untuk mandi. Begitu handuk sudah kuambil aku bermaksud kembali lagi ke kamar, mau ambil pakaian kotor sekaligus ingin mengecek HPku sebelum mandi. Saat lewat kamar mandi, kulihat Ibu mertuaku keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan ke tubuhnya. Aku menunduk mencoba untuk tidak melihatnya, tetapi dia tampak sengaja menubrukku.
“Kamu mau mandi ya?” tanya
Ibu mertuaku kepadaku.
“Iya, emang kenapa Bu”?
tanyaku. Mataku langsung saja tertumbuk pada payudaranya yang putih dan montok
itu. Ingin rasanya kujilati dan kususui sepuasnya sampai dia keluar… aku
menelan ludahku membayangkan itu.
Dia langsung peluk aku dan cium pipi kananku, sambil berbisik dia berkata genit “Mau Ibu mandiin nggak?!”
“Eh, Ibu. Emang bayi pake
dimandiin segala” candaku.
“Ayo sini.. biar bersih
mandinya..” jawab Ibu mertuaku sambil mengerling nakal dan menarikku masuk ke
kamar mandi.
Sampai di kamar mandi aku
taruh handukku sedangkan Ibu mertuaku membantu melepaskan kausku. Sekarang aku
telanjang bulat, dan langsung mengguyur tubuhku dengan air. Ibu mertuaku
melepaskan handuknya dan kitapun telanjang bulat bersama. Matanya
bersinar-sinar memandangi tubuh telanjangku, seakan-akan dia ingin menelan
habis diriku.
Melihat tubuhnya yang
telanjang, aku spontan menelan ludahku. Kontol ku mulai naik pelan-pelan
melihat suasana merangsang seperti itu. “Eh, belum diapa-apain sudah berdiri?”
kata Ibu mertua menggodaku dengan mencubit pelan batang Kontol ku. Aku mengisut
malu-malu diperlakukan seperti itu. Kuambil sabun dan kugosok tubuhku dengan
sabun mandi.
Kita bercerita-cerita tentang hal-hal yang kita lakukan beberapa hari ini. Si Ibu bercerita tentang teman-temannya, sedangkan aku bercerita tentang pekerjaan, aktivitas olahraga, dan lingkungan kantorku. Ibu mertuaku terus menyabuni aku dengan lembut, sepertinya dia ingin membuat pengalaman mandiku kali ini istimewa.
Sambil terus bercerita, Ibu
mertuaku tetap menyabuniku sampai ke pelosok-pelosok tubuhku. Kadang sambil
menyabuni, tangannya nakal bergerilya di tubuhku. Dicakarinya bukit dadaku.
Kontol ku yang sudah tegang, dipegangnya dan disabuninya dengan lembut.
Selesai disabun aku guyur kembali tubuhku dan sesudah itu mengeringkannya dengan handuk. Begitu mau pakai celana, Ibu mertuaku melarang dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum nakal. Kami lilitkan handuk di tubuh masing-masing. Setelah itu ditariknya diriku ke kamarnya.
Sesampainya di sana,
didorongnya dadaku ke atas kasurnya. Dia sendiri langsung mengunci pintu
kamarnya. Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Dia dekati aku, lalu dia
lepaskan handuk di tubuhku dan tubuhnya. Kontol ku memang sudah hampir total
berdiri. Dia langsung bergerak ke arah Kontol ku dan mulai mengulum Kontol ku.
Pelan tapi pasti kurasakan batang Kontol ku yang sudah berdiri, tambah
mengeras, memanjang, dan membesar seiring kulumannya di Kontol ku. Gairahku pun
turut memuncak. Kupegangi kepalanya yang naik turun sambil mendesah-desah
nikmat. Mataku merem melek merasakan kulumannya itu.
Cuma sebentar dia ciumi Kontol ku, sekitar 10 menitan, langsung dia menaikiku kembali. Dia arahkan Kontol ku ke memeknya. ”Sleeppp…slleepp…sslleepp…” tiga kali tusukan, masuk sudah seluruh Kontol ku terbenam dalam memeknya. Dalam hati aku berpikir kalau Ibu mertuaku memang sudah rindu sekali ingin melakukannya lagi denganku. Dia angkat dan dia turunkan pantatnya dengan gerakan yang stabil. Aku pegang dan remas-remas payudaranya membuat dia seperti terbang ke awang-awang kenikmatan.
Tak lama kuubah posisi bercintaku. Aku bangkit, kudekap dia sambil terus memompa Kontol ku dalam-dalam ke memeknya, bibir dan tanganku bermain-main di payudaranya. Desahan nikmatnya tambah keras dan goyangan pantatnya tambah liar merasakan rambahan mulut dan tanganku di payudaranya. Dan efeknya, putaran pantatnya membuatku seperti gila, matanya merem melek keenakan, dan aku jadi tambah bersemangat untuk menyodok memeknya.
Menit-menit berlalu, gerakannya semakin cepat dan dia bersuara pelan “Oh… oh… ahcch…” tibalah dia ke puncak kenikmatannya. Dan tak lama kemudian tubuhnya menegang kencang dan dia jatuhkan diri ke pelukanku yang sudah kembali berbaring. Kupeluk dia erat-erat sambil mengatakan
“Waduh.. enak banget ya?”
“He-eh, enak” balasnya.
“Emang ngeliat siapa di sana
sampai begini?” godaku.
“Ah, nggak ngeliat
siapa-siapa, cuma kangen aja…” bisik mesranya ke telingaku. Kali ini aku
kembali bergerak, kuciumi dia terlebih dahulu sambil kuremasi payudaranya.
Kubuat dia mendesah geli dengan rabaan tanganku di punggung dan pinggulnya, dan
kubangkitkan gairahnya kembali.
Kutidurkan dia, lalu
kunikmati kembali sekujur tubuhnya senti demi senti, mulai dari payudara hingga
ke pangkal pahanya. Sampai di daerah memeknya, kujilati dinding memeknya sambil
memainkan lobang memeknya dengan tanganku. Kujilati klitorisnya, kusedoti
cairan memeknya yang mulai membanjir, dan kutusukkan memeknya dengan
jari-jariku.
Ibu mertuaku mendesis-desis
seperti kepedasan dan mengeluh nikmat karena gerakanku itu. Terkadang dia
membuka dan merapatkan pahanya yang indah untuk mendekap wajahku, seakan-akan
dia ingin agar kepalaku masuk ke lobang memeknya. Sekitar 10 menit kumainkan
kemaluannya, Ibu mertuaku mulai tidak sabar.
“Ayo ah.. kamu ngebuat Ibu
gila nanti…” kata Ibu mertuaku.
Aku beranjak bangun dan
menindihnya sambil mengarahkan Kontol ku masuk ke dalam memeknya.
Kugesek-gesekkan dahulu kepala Kontol ku di kelentitnya, lalu pelan mulai
kumasukkan Kontol ku ke lobang memeknya.
Sleppp…sleppp… Pelan-pelan
aku goyangkan Kontol ku, kadang kutekan pelan dengan irama-irama lembut. Tak
lama masuk sudah Kontol ku ke dalam dan Ibu mertuaku mendesis seperti ular
cobra. Kugoyang pantatku, kunaikkan dan kutekan kembali Kontol ku masuk ke
dalam memeknya.
Aku terus bergerak monoton
dengan ciuman-ciuman mesra ke arah bibir Ibu mertuaku. Sambil kuciumi mulutnya,
kumainkan kembali payudaranya. Kuraba dan kuremas payudaranya dengan lembut.
Sesekali kumainkan juga kelentitnya. Ibu mertuaku hanya mengeluarkan
desahan-desahan nikmat dengan matanya yang merem melek.
Kulihat dia begitu nikmat
merasakan pompaan Kontol ku di dalam memeknya. Dia jepit pinggangku erat dengan
kedua kakinya untuk membantuku menekan batang Kontol ku, yang sejak tadi masih
aktif mengocok lobang memeknya. Kedua tangannya memainkan rambut dan puting
dadaku, sementara aku asyik menjilati lehernya. Cukup lama kami bermain,
gerakan Ibu mertuaku bertambah liar.
“Aku nggak kuat, Do..” desah
ibu mertuaku. Tak lama kemudiannya, tubuhnya mulai kejang-kejang. Rupanya dia
sudah mendekati puncaknya.
“Ahhh…ohhh…Dohh…aku
keluarrrr…” erang nikmat Ibu mertuaku.
Pelukannya mengetat,
dijambaknya rambutku yang membasah karena keringatku dengan tangan kanannya,
dan dicakarnya punggungku dengan tangan kirinya. Dibenamkan wajahnya di dada
bidangku. Digigitinya putingku, dan dihisapnya lembut. Lalu kurasakan batangku
tersiram cairan memeknya yang meleleh karena orgasmenya yang kedua. Aku
hentikan pompaanku di memeknya, kuberikan kesempatan dia untuk istirahat
sejenak setelah keluar tadi.
Setelahnya kuminta dia
berganti posisi. Kali ini aku memintanya untuk menungging. Aku ingin
menggaulinya dengan gaya doggie style. Ibu mertuaku tersenyum mendengar
permintaanku.
“Ohh…Puasin Ibu Doh…!”
“Iya buh!” jawabku parau.
Begitu dia menungging, kusaksikan pemandangan yang luar biasa dari posisi ini.
Pantat Ibu mertuaku yang begitu bulat dan montok, begitu terawat berkat
ketekunannya berolahraga dan minum vitamin, lobang kemaluannya yang begitu
menggoda, dengan rambut kemaluannya yang terpotong rapi. Glekk… kutelan ludahku
melihat pemandangan indah itu.
Kujilati sebentar daerah
kemaluan dan lobang anusnya itu. Kujilat dan kusedot-sedot memeknya dari
belakang. Kumainkan juga lobang anusnya dengan lidah dan jari-jari tanganku
secara bergantian. Ibu mertuaku mendesah-desah nikmat merasakan kenakalan
tangan dan mulutku itu.
“Ayyyoohhh…Ddohhh…Cepetannn
masukiiinnn burungmuhh ituhhh…” Ibu mertuaku memohon dengan nada memelas.
Sebenarnya aku masih ingin bermain di daerah miliknya, tapi khawatir istriku
akan pulang sebelum perbuatan mesum kami ini selesai. Kuposisikan Kontol ku ke
arah memeknya. Kumasukkan perlahan demi perlahan Kontol ku ke dalam miliknya. Daftar Texas Poker Sleeppp…sleep…bleeppp…masuk sudah seluruh Kontol ku tertelan memeknya, dan
mulai kupompa dia.
Tak lama kurasakan memeknya
mulai membasah, seiring dengan semakin cepatnya pompaan Kontol ku di memeknya.
Desah dan rintih penuh kenikmatan mulai terdengar kembali dari mulut kami
berdua, seiring dengan meningkatnya intensitas persetubuhan itu. Keringat deras
mulai bercucuran di sekujur tubuhku, dan beberapa di antaranya berjatuhan di
tubuh Ibu mertuaku, yang juga sudah licin oleh keringatnya sendiri.
“Dohh…ohhh…ahhh….ennaakkk…terusss…”
desah nikmat Ibu mertuaku merasakan pompaan Kontol ku yang semakin cepat dan
liar di memeknya. Kuremas-remas payudaranya dari belakang. Kumainkan juga
lobang anusnya dengan jari tengahku.
“Ohhh…aahhh…asshh…beginihh…Buhhh…?”
tanyaku sambil terus memompa, sesekali menghujam-hujamkan Kontol ku hingga
melesak jauh ke dalam memeknya.
“Oohh…ahhh…Iyaahhhh…kaya…gituuhhh…”
balas Ibu mertuaku, penuh kenikmatan. Aku semakin menambah kecepatan gerakanku
apalagi setelah Ibu mertuaku memintaku untuk keluar berbarengan, aku menggeliat
menambah erotis gerakanku. Hampir sejam sudah kami bergelut, bermandi keringat,
lalu…
“Acchh.. sshh.. ahhh.. ohhh”
desah Ibu mertuaku sambil menjepit erat-erat Kontol ku dalam memeknya. Keluar
sudah cairannya membanjiri Kontol ku. Semenit kemudian ketika aku hampir
keluar, kutekan dalam-dalam Kontol ku ke dalam memeknya. Dengan jeritan yang
keras, kuhamburkan spermaku keluar dan masuk ke dalam memek Ibu mertuaku.
“Crrroooottttt…
ccrrrrooottttt…. Cccrrrrrooottttt….”
“Ahhcckk.. ahhk.. aduhh..
oohh…nikmatnya” desahku. Aku benar-benar puas dibuat Ibu mertuaku, sepertinya
spermaku benar-benar banyak keluar, membasahi lobang dan dinding memek Ibu
mertuaku. Untuk sesaat kami masih mempertahankan posisi seperti ini, sambil
merasakan sisa-sisa nikmatnya orgasme. Aku terus memegang erat pinggulnya
erat-erat sambil sesekali menekan Kontol ku dalam-dalam, memastikan tak ada
spermaku yang tersisa di kepala Kontol ku. Lalu kutarik Kontol ku dari dalam
memeknya.
Kuperhatikan spermaku dan
cairan birahinya, meluap keluar dari lobang memeknya saat kutarik Kontol ku
dari sana.
“Mungkin nggak ketampung
makanya tumpah” komenku dalam hati.
Ibu mertuaku langsung
berbalik posisi dan berbaring disusul aku kemudian. Dia langsung merebahkan
kepalanya di dadaku sambil memeluk diriku mesra. Tangannya membelai-belai
dadaku dan puting-putingnya. Sesaat kami masih saling bercanda, sambil
berciuman mesra, dan meremas anggota seksual pasangannya. Sesudahnya aku
beranjak bangkit, pamit ke kamar mandi lalu mandi lagi. Kubersihkan sekujur
tubuhku dari sisa-sisa keringat dan sperma di Kontol ku. Ibu mertuaku pun
menyusul mandi tak lama kemudian.
Setelah peristiwa nikmat yang
kedua di hari itu, hubunganku dengan Ibu mertuaku menjadi tambah mesra saja.
‘Kuhajar’ dia di mana saja, di kamar mandi, kamarnya, kamarku, dapur, dan di
ruang tamu kalau suasananya mendukung. Kadang kalau lagi nafsu-nafsunya dia
sering mengajakku bercinta secara kilat di mana saja dia mau. Sebenarnya aku
berusaha menghindar untuk berkencan lagi dengannya, tetapi kita hanyalah
manusia biasa yang terlalu mudah tergoda dengan hal itu.
Aku selalu terangsang dengan kemolekan tubuh, kemampuan oral, dan jepitan memeknya. Sebaliknya dia tergila-gila dengan tubuh atletis, ukuran burung, dan keperkasaanku di atas ranjang. Hubungan mesum kami terus berlanjut selama enam bulan ke depan, hingga akhirnya dia memutuskan pindah dari rumahku. Ibu mertuaku pindah ke rumah anaknya yang sulung, aku tahu maksudnya. Tetapi istriku tidak menerimanya dan berperasangka negatif bahwa dia tidak mampu menjaga ibunya yang satu itu.




Comments
Post a Comment